01 · Bahasa Logika Proposisional
Kalimat dan Proposisi
Tidak semua kalimat bisa diolah logika. Hanya kalimat deklaratif — yang nilai kebenarannya bisa ditentukan — yang disebut proposisi.
Kalimat Deklaratif
- Merupakan fakta
- Dapat ditentukan nilai kebenarannya (benar/salah)
Kalimat Non-Deklaratif
- Bukan fakta
- Tidak dapat ditentukan nilai kebenarannya
true atau false — hanya satu, tidak keduanya sekaligus.Coba periksa beberapa kalimat
Proposisi
Merupakan fakta objektif dengan nilai kebenaran yang sudah diketahui, yaitu benar.
01 · Bahasa Logika Proposisional
Simbol dan Penghubung Proposisional
Proposisi dituliskan dengan simbol, lalu disatukan lewat penghubung proposisional untuk membentuk kalimat yang lebih kompleks.
Simbol Proposisional
Ditulis dengan huruf kapital, dengan atau tanpa indeks numerik.
P, Q, R, S · P1, Q1, R1, S1
Simbol Kebenaran
Menuliskan nilai kebenaran suatu proposisi secara utuh.
true, false
Enam penghubung proposisional
not
Aturan Negasi. Contoh: not P.
02 · Aturan Sintaktik
Tujuh Aturan Sintaktik
Tujuh aturan ini menentukan kapan suatu untai simbol sah disebut kalimat logika proposisional, dari proposisi tunggal sampai kondisional bercabang.
I. Aturan Proposisi
Setiap proposisi merupakan kalimat.
Langkah Pemeriksaan Kalimat
- Perhatikan simbol-simbol dalam ekspresi. Periksa apakah simbol kebenaran atau simbol proposisi, lalu periksa Aturan I.
- Perhatikan penghubung proposisional dalam ekspresi, lalu periksa apakah memenuhi Aturan II–VII.
Contoh 2.1 — Apakah E: not P kalimat logika proposisional? +
not P juga merupakan kalimat.Contoh 2.2 — Apakah F: if P then (Q or not P) kalimat logika proposisional? +
not P kalimat menurut Aturan Negasi. Q or not P kalimat menurut Aturan Disjungsi. Karena P dan (Q or not P) kalimat, maka if P then (Q or not P) kalimat menurut Aturan Implikasi.02 · Aturan Sintaktik
Kalimat Bagian
Kalimat bagian adalah seluruh kalimat — dari simbol terkecilnya sampai kalimat lengkap — yang menyusun sebuah kalimat logika proposisional.
Langkah Penentuan Kalimat Bagian
- Perhatikan simbol logika proposisional. Periksa apakah simbol kebenaran atau simbol proposisi, dan periksa Aturan I.
- Perhatikan penghubung proposisional. Periksa apakah memenuhi Aturan II–VII.
- Susun daftar semua kalimat yang terbentuk dari langkah 1 dan 2.
Contoh 2.3 — Kalimat bagian dari E: not P +
not (Aturan Negasi). Jadi kalimat bagian dari E adalah {P, not P}.Contoh 2.4 — Kalimat bagian dari F: if P then (P or not P) +
not, or, dan if-then. Jadi kalimat bagian dari F adalah {P, not P, P or not P, if P then (P or not P)}.03 · Notasi
Notasi dan Konversinya
Kalimat yang sama bisa ditulis dalam tiga notasi — matematika, pseudocode, dan function — dan ketiganya bisa saling dikonversi mengikuti tabel padanan.
Simbol proposisi (P, Q, R, S) ditulis sama pada ketiga notasi. Simbol kebenaran (true, false) hanya dikenal pada notasi pseudocode dan function.
Langkah Konversi Notasi
- Perhatikan penghubung dalam kalimat.
- Lakukan konversi sesuai tabel padanan di atas.
Contoh 3.1 — Ubah E: not (P or Q) ke notasi matematika dan function +
not adalah ¬ dan or adalah ∨, sehingga notasi matematika E adalah ¬(P ∨ Q). Notasi function-nya adalah not(or(P, Q)).04 · Interpretasi
Interpretasi
Interpretasi memberi nilai kebenaran true atau false pada tiap simbol proposisional dalam suatu kalimat, sehingga kalimat itu bisa dinilai benar atau salah.
I: {P←true, Q←false} — artinya memberi nilai true ke P dan false ke Q.Langkah Penentuan Interpretasi
- Tentukan simbol proposisional dalam kalimat.
- Berikan nilai kebenaran pada tiap simbol proposisional tersebut.
- Tuliskan interpretasinya dalam format
I: {...}.
Banyak interpretasi yang mungkin: 2n
dengan n = banyak simbol proposisional berbeda dalam kalimat. Pilih n untuk melihat hasilnya:
23 = 8 — misalnya untuk kalimat G dengan simbol P, Q, R, ada 8 interpretasi yang mungkin.
Langkah Pemeriksaan Interpretasi
- Tentukan simbol proposisional dalam kalimat.
- Periksa apakah semua simbol proposisional itu sudah diberi nilai kebenaran dalam interpretasi. Jika ya, interpretasi bersesuaian dengan kalimat; jika belum lengkap, interpretasi tidak bersesuaian.
Contoh 4.1 — Tentukan suatu interpretasi untuk E: not P +
I: {P←true}.Contoh 4.2 — Semua interpretasi yang mungkin untuk E: not P +
I₁: {P←true} dan I₂: {P←false}.Contoh 4.3 — Apakah I: {P←true} merupakan interpretasi untuk E: if Q then not P? +
Bacaan Lanjutan
Referensi Rekomendasi
Modul resmi mata kuliah dan tiga rujukan pelengkap untuk memperdalam aturan sintaktik, notasi, dan interpretasi kalimat logika proposisional.
Suprapto. (2020). Logika Informatika (Buku Materi Pokok). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Modul resmi mata kuliah STSI4106 — sumber utama seluruh materi Sesi 1 ini.
Bergmann, M., Moor, J., & Nelson, J. (2014). The Logic Book (6th ed.). New York: McGraw-Hill.
Rujukan standar untuk pembentukan kalimat logika proposisional secara formal, termasuk aturan sintaktik.
mheducation.com/highered/product/logic-book-bergmann-moorRosen, K. H. Discrete Mathematics and Its Applications. New York: McGraw-Hill.
Referensi pelengkap untuk notasi, tabel kebenaran, dan interpretasi proposisi.
mheducation.com/highered/product/discrete-mathematics-and-its-applications-rosenWooldridge, M. (2000). Lecture 07: Propositional Logic (1).
Catatan kuliah yang menjadi salah satu rujukan slide sesi ini.
cs.ox.ac.uk/people/michael.wooldridge/teaching/soft-eng/lect07.pdf